PROBLEMA TENAGA PENDIDIK DAN
PESERTA DIDIK
TERHADAP
KURIKULUM 2013
ARTIKEL
Disusun
Oleh :
Djohan
NIM.
131415006
ABSTRAK
Pendidikan adalah suatu usaha untuk melakukan proses pembelajaran bagi peserta didik untuk mencapai tujuan
pendidikan yang diterapkan di suatu negara. Pendidikan tidak terlepas dari
kurikulum pendidikan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah. Kurikulum merupakan
suatu metode yang digunakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di suatu
negara. Penerapan kurikulum dalam sistem pendidikan di suatu Negara sangatlah
penting sebagai dasar dalam pelaksanaan pendidikan. Perubahan
kurikulum, di mana pun, sebetulnya hampir sama, selalu membutuhkan penyesuaian
pola pikir para pemangku kepentingan.
Kata Kunci : Problema
Tenaga pendidik, peserta didik, Kurikulum 2013
PENDAHULUAN
Pendidikan
merupakan suatu proses yang dilakukan oleh pemerintah secara sadar dan
terencana untuk memajukan negaranya melalui ilmu pengetahuan untuk mencapai
tujuan negaranya. Penerapan kurikulum dalam sistem pendidikan di suatu negara sangatlah penting sebagai dasar dalam
pelaksanaan dasar pendidikan. Kurikulum
yang dipakai saat ini, mengacu pada UndangUndang No.20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan
nasional. Kurikulum yang digunakan saat
ini adalah kurikulum KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), akan tetapi
dinilai dari berbagai sudut kurikulum
yang digunakan saat ini masih memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu
pemerintah merancang kurikulum baru
yaitu Struktur Kurikulum 2013.
Kurikulum 2013 adalah kurikulum
berbasis kompetensi yang pernah di gagas dalam rintisan Kurikulum Berbasis Kompetensi( KBK) 2004, tetapi belum terselesaikan karena desakan untuk segera
mengimplementasikan kurikulum tingkat satuan pendidikan 2006. Kurikulum 2013
dirancang sebagai upaya mempersiapkan generasi Indonesia 2045 ( 100 tahun
Indonesia merdeka ), sekaligus memanfaatkan momentum populasi usia produktif
yang jumlahnya sangat melimpah agar menjadi bonus demografi dan tidak menjadi
bencana demografi.
Namun dalam
pelaksanaannya kurikulum 2013 banyak mengalami kendala-kendala dan problema di
dalam ruang lingkup pendidik ( Guru )
maupun peserta didik ( Siswa) itu sendiri. Kita sebagai warga yang hidup
di lingkungan pendidikan perlu mengetahui apa saja yang menjadi kendala dalam
kurikulum 2013 serta solusi pemecahannya.
METODE PENELITIAN
METODE OBSERVASI
Metode yang digunakan dalam
pelaksanaan observasi ini adalah sebagai berikut :
1. Wawancara
Metode wawancara ini dilaksanakan
dengan melakukan tanya jawab langsung dengan narasumber yang terkait yaitu
Wakil Kepala Sekolah urusan kurikulum, sarana dan prasarana, kesiswaan, dan
hubungan masyarakat.
2.
Observasi
Metode observasi ini dilakukan
dengan cara mengamati kondisi fisik di tempat di adakannya penelitian tersebut
TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Teknik pengumpulan data dalam laporan ini dilakukan dengan dua teknik,
antara lain teknik observasi dan teknik interview (wawancara langsung).
1.
Teknik
observasi
Teknik kunjungan langsung ketempat yang akan dituju. Melalui teknik ini
kelebihan dan kekurangan proses pembelajaran dapat diamati secara langsung.
Untuk menemukan alaternatif atau solusi perbaikan proses pembelajaran lebih
konkrit dan mendalam. Ada tiga pola teknik observasi yaitu
a. memberi tahu
b. tanpa memberi tahu
c. atas permintaan guru
Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan dalam proses pembelajaran.
Karena itu pola apapun yang akan dipakai, sebaiknya secara umum.
2.
Teknik
interview ( wawancara langsung)
Teknik ini merupakan teknik berbicara langsung dengan responden yang akan
kita hadapi. Teknik ini merupakan tindak lanjut dari teknik observasi yang kita
jelaskan sebelumnya. Dengan teknik ini kita dapat memperoleh hasil yang valid
sehingga laporannya menjadi baik.
3.
Alat bantu yang di pakai
Alat yang di pakai dalam proses wawancara adalah sebuah alat rekaman
yang ada di dalam heandpone untuk
mengumpulkan data.
TEKNIK YANG
DIPAKAI DALAM PENELITIAN
Penelitian ini di lakukan dengan teknik wawancara dari beberapa narasumber mulai dari pimpinan
sekolah yaitu kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru-guru yang merupakan
orang yang berperan penting terhadap kemajuan serta nasib dari kurikulum yang
terapkan oleh pemerintah , serta mereka yang merasakan langsung atmosfer
kurikulum 2013 yaitu para siswa dan
siswi yang ada di sekolah tersebut.
WAKTU DAN TEMPAT
Penelitian
ini juga menggunakan metode observasi dengan
mengajukan surat ijin observasi ke beberapa sekolah yang ada di
gorontalo di mulai tanggal 22 September – 31 Oktober 2016. Berikut tempat di adakannya penelitian :
1. SMA Prasetya
Gorontalo
2. SMK Negeri 1
Bulango Selatan
3. SMP Negeri 2 Gorontalo
4. SMP Negeri 3
Gorontalo
HASIL PENELITIAN
Empat tahun sudah
kurikulum 2013 sudah di realisasikan oleh Pemerintah ke seluruh sekolah yang
ada di indonesia, Namun sampai sekarang masih ada juga sekolah yang belum bisa
menggunakan atau merasakan bagaimana sistem yang di pakai di kuriukulum 2013
dengan alasan yang berbeda-beda. Salah satu contoh sekolah-sekolah yang ada di
daerah Kota Gorontalo, dari hasil penelitian 4 lokasi dan sekolah berbeda yang ada kota
gorontalo dengan alasan dari pihak sekolah maupun siswa ada alasan yang berbeda pula.
Sama seperti halnya
salah satu SMA Swasta yang ada di Kota
gorontalo yaitu SMA Prasetya Gorontalo yang
masih menggunakan KTSP 2006, alasannya karena keadaan sekolah dan
kondisi siswa yang tidak memungkinkan dalam penerapan kurikulum tersebut,
serta para guru merasa kebingungan karena
semula hanya tiga mata pelajaran saja yang menggunakan kurikulum 2013 yaitu
matematika, bahasa Indonesia, dan sejarah namun tiba-tiba kurikulum 2013
diterapkan untuk semua mata pelajaran padahal guru-guru lain selain matematika,
bahasa Indonesia, dan Sejarah belum dilatih bagaimana menerapkan kurikulum 2013
pada mata pelajaran yang diampunya.
Selain itu juga, sekolah yang ada di bagian kota gorontalo utara tepatnya
di kabupaten bone bulango, memberikan alasan kalau sekolah mereka belum
terdaftar sebagai salah satu sekolah yang bisa menggunakan Kurikulum 2013 pada
hal para guru di sekolah SMK Negeri 1 Bulango Selatan itu sangat senang dan
setuju kalau sekolah mereka bisa menggunakan kurikulum tersebut. Mereka juga
memberikan alasan kalau sekolah mereka belum bisa melengkapi fasilitas serta
sarana dan prasarana yang di butuhkan di kurikulum 2013 seperti buku, ruangan
perpustakaan dan kondisi ruangan yang belum memungkinkan dengan jumlah siswa
yang ada di sekolah tersebut. Mereka sangat mendukung peran pemerintah untuk
merealisasikan kurikulum 2013 ini, tapi dengan kondisi dan situasi yang seperti
itu mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
Bukan hanya itu di SMP Negeri 2
Gorontalo juga belum bisa menggunakan kurikulum 2013, alasan mereka sesuai
dengan hasil wawancara, karena sudah sesuai dengan
aturan yang dibuat oleh pemerintah maka kami siap menerapkan kurikulum
tersebut, dan juga memberikan alasan jika kurikulum 2013 di adakan di sekolah
mereka masih banyak kekurangan dari segi pembelajaran apabila K13 di gunakan di
sekolah tersebut. Mereka juga memberikan pernyataan bahwa apabila K13 di
realisasikan ke sekolah tersebut, mereka akan siap walaupun masih banyak
kekurangan dari segi pembelajaran maupun segi tenaga pendidik.
Beda
hanya halnya di SMP Negeri 2 Gorontalo, di SMP Negeri 3 Gorontalo yang sudah
memakai kurikulum 2013 tetapi hanya terfokus kepada kelas 1 saja, selain itu
memakai kurikulum 2006, dalam artian kelas 2 dan 3 masih mnggunakan KTSP,
mereka meberikan alasan bahwa kepala sekolah sudah menentukan kelas mana yang
akan menggunakan K13, selain itu mereka juga memberikan alasan agar supaya
kelas 1 yang akan naik ke kelas 2 dan 3
sudah terbiasa dengan adanya K13 karena sampai dengan saat ini K13 merupakan
Problem terhadap peserta didik, di tambah lagi dengan adanya penerapan baru
dari pemerintah yaitu Full Day Shcoll yang insya Allah dengan segala
keterbatasan kami akan siap melaksanakannya.
PEMBAHASAN
A.
Problema
Kurikulum 2013
Dengan
diterapkannya Kurikulum 2013 timbul beberapa pro dan kontra. Hal ini
diakibatkan kebijakan yang pemerintah buat,
tidak sesuai dengan harapan dan kondisi nyata yang ada di lapangan. Para
guru yang ditunjuk sebagai pelaksana kurikulum merasa bingung dengan
diterapkannya kurikulum 2013 ini. Kebanyakan dari mereka masih menggunakan
kurikulum sebelumnya yakni kurikulum KTSP dalam pembelajarannya, karena mereka
belum begitu paham dengan kurikulum 2013 yang sebenarnya, padahal beberapa dari
mereka telah dilatih dalam persiapan pelaksanaan Kurikulum 2013. Salah satu
perbedaan antara kurikulum 2013 dengan kurikulum sebelumnya adalah adanya buku
siswa dan buku guru yang telah disediakan oleh pemerintah pusat sebagai buku
wajib sumber belajar di sekolah. Sesuai dengan pendekatan yang digunakan dalam
kurikulum 2013, yakni pendekatan scientific.
Pendekatan ini lebih menekankan pada pembelajaran yang mengaktifkan siswa.
Pendekatan ini dilaksanakan dengan melibatkan tiga model pembelajaran
diantaranya adalah problem based learning, project based learning, dan
discovery learning. Ketiga model ini akan menunjang how to do yang
dielu-elukan dalam kurikulum 2013. Dan
Juga Peran guru sangat penting untuk meningkatkan dan menyesuaikan daya serap
peserta didik dengan ketersediaan kegiatan pada buku siswa dan buku guru.
Menurut Glickman ( dalam buku Masaong yang berjudul Supervisi
Pembelajaran dan Pengembangan Kapasitas Guru, 2013; 42-43) Karakteristik guru
terdiri atas dua tingkatan level yaitu tingkatan komitmen (Level of commitment) dan tingkatan Abtraksi (Level of abstraction), kedua level ini membentuk perilaku guru
dalam mengembangkan diri dan dalam melaksanakan pembelajaran di kelas. Level
abstraksi merujuk pada kemampuan kognitif, sedangkan level komitmen merujuk pada
kesungguhan untuk menjalankan tugas-tugas yang diemban.
Dalam
pelaksanaannya pendekatan scientific ini menekankan lima aspek penting,
yaitu:
1.
Mengamati
Pada kurikulum 2013 metode ceramah
tidak dilupakan, hanya dikurangi takarannya. Siswa dituntut aktif dalam segala
masalah. Proses mengamati dalam pelajaran Fisika, Biologi, Kimia merupakan
suatu proses belajar yang sering digunakan. Namun bagi mata pelajaran lain,
guru dituntut harus paham materi sebelum menghadirkan siswa ke dunia nyata
dengan mengamati sendiri semua fenomena yang terjadi yang berhubungan dengan
materi pelajarannya.
2. Menanya
Agar siswa merasa bertanya-tanya (rasa ingin tahu), seorang guru harus
menyediakan pembelajaran yang menimbulkan masalah. Artinya guru harus mampu
menyediakan kegiatan pembelajaran yang menarik yang dapat menimbulkan rasa ngin
tahu siswa.
3.
Mencoba
Dalam pelaksanaan kurikulum 2013, siswa dituntut untuk mencoba sendiri, dan
terlibat langsung dalam masalah yang dihadirkan guru. Dalam pembelajaran
matematika misalnya, siswa diminta mencoba sendiri mencari data untuk disajikan
dalam bentuk diagram, ataupun grafik. Data itu dapat diperoleh melalui
pengukuran langsung, melalui wawancara, dan melalui pengamatan.
4. Menalar
Siswa dituntut untuk dapat memahami
dengan benar pokok materi yang diajarkan guru. Siswa akan mudah menalar suatu
materi ajar apabila pelajaran yang diajarkan tidak memberatkan mereka.
Perubahan kurikulum, di mana
pun, sebetulnya hampir sama, selalu membutuhkan penyesuaian pola pikir para
pemangku kepentingan (stake holder). Demikian pula yang terjadi pada
Kurikulum 2013 ini, ia hanya mungkin sukses bila ada perubahan paradigma atau
lebih tepatnya mindset para guru dalam proses pembelajaran. Hal itu
mengingat substansi perubahan dari Kurikulum 2006 (KTSP) ke Kurikulum 2013 ini
adalah perubahan proses pembelajaran, dari pola pembelajaran ala bank, yaitu
guru menulis di papan tulis dan murid mencatat di buku serta guru menerangkan
sedangkan murid mendengarkan, menjadi proses pembelajaran yang lebih mengedepankan
murid untuk melakukan pengamatan, bertanya, mengeksplorasi, mencoba, dan
mengekspresikannya. Proses pembelajaran yang mendorong siswa untuk aktif
tersebut hanya mungkin terwujud bila mindset guru telah berubah. Mereka
tidak lagi memiliki mindset bahwa mengajar harus di dalam kelas dan
menghadap ke papan tulis. Mengajar bisa dilakukan di perpustakaan, kebun, tanah
lapang, atau juga di sungai. Media pembelajaran pun tidak harus buku, alat
peraga, atau komputer. Tanam-tanaman dan pohon di kebun, sungai, dan sejenisnya
juga dapat menjadi media pembelajaran.
Sebenarnya
implementasi kurikulum 2013 sangat membutuhkan dukungan penuh dan kreativitas
para guru. Sayangnya, belum semua guru paham maksud dari kurikulum itu. Sebab,
pelatihan tidak berjalan sempurna sebagaimana yang dibayangkan. Persoalannya
adalah perubahan mindset guru tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat,
melainkan butuh waktu bertahun-tahun, padahal Kurikulum 2013 itu harus
dilaksanakan dalam waktu secepatnya. Komprominya adalah persoalan teknis
dilatihkan dalam waktu satu minggu, tapi perubahan mindset harus
dilakukan terus-menerus dengan cara mendorong guru untuk terus belajar.
Tabel
Perbandingan Pelaksanaan Kurikulum dan Pembelajaran
No.
|
Pelaksanaan
Kurikulum 2006
|
Pelaksanaan
Kurikulum 2013
|
1.
|
Materi di susun untuk memberikan
pengetahuan kepada siswa
|
Materi di susun seimbang mencakup
kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan
|
2.
|
Pendekatan pembelajaran adalah
siswa di beritahu tentang materi yang harus di hafal ( siswa di beri tahu )
|
Pendekatan pembelajaran
berdasarkan pengamatan, pertanyaan, pengumpulan data, penalaran, dan
penyajian hasilnya melalui pemanfaatan berbagai sumber belajar ( siswa mencari tahu )
|
3.
|
Penilaian pada pengetahuan melalui
ulangan dan ujian
|
Penilaian autentik pada aspek
kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan berdasarkan portofolio
|
4.
|
Prinsip pelaksanaan kurikulum
melalui:
a) Siswa harus mendapatkan pelayanan
pendidikan yang bermutu, serta memperoleh kesempatan untuk mengekspresikan
dirinya secara bebas, dinamis dan menyenangkan;
b) Menegakkan 5 pilar belajar;
c) Peserta didik mendapatkan
pelayanan yang bersifat perbaikan,
Pengayaan dan Percepatan;
d) Suasana hubungan peserta didik dan
pendidik yang saling menerima dan menghargai, akrab, terbuka dan hangat;
e) Menggunakan pendekatan Multi
strategi dan multimedia, sumber belajar dan teknologi yang memadai, dan
memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar;
f) Mendayagunakan kondisi alam,
sosial, dan budaya, serta kekayaan daerah; dan
g) Di selenggarakan dalam
keseimbangan, keterkaitan, dan kesinambungan yang cocok dan memadai
antarkelas dan jenis, serta jenjang pendidikan.
|
Prinsip-prinsip pelaksanaan
kurikulum di laksanakan melalui pendekatan Scientific:
a) Materi pembelaran berbasis pada
fakta atau fenomena yang dapat di jelaskan dengan logika atau penalaran
tertentu, bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata;
b) Penjelasan guru, respon siswa, dan
interaksi edukatif guru-siswa terbebas dari prasangka yang serta-merta,
pemikiran subjektif, atau penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis;
c) Mendorong dan menginspirasi siswa
berpikir secara kritis, analitis dan tepat dalam mengindentifikasi, memahami,
memecahkan masalah, dan mengaplikasikan materi pembelajaran;
d) Mendorong dan menginspirasi siswa
mampu berpikir hipotesis dalam melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu
sama lain dari materi pembelajaran;
e) Mendorong dan menginspirasi siswa
mampu memahami, menerapkan, dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan
objektif dalam merespon materi pembelajaran;
f) Berbasis pada konsep, teori, dan
fakta empiris yang dapat di pertanggung jawabkan;
g) Tujuan pembelajaran di rumuskan
secara sederhana dan jelas, namun menarik sistem penyajiannya.
|
Menurut penelitian Pathuddin Dalam buku Triwiyanto Teguh
yang berjudul Manajemen Kurikulum dan Pembelajaran ( 2015: 172-173 ) di
sulawesi tengah menunjukan pelaksanaan kurikulum berdasarkan kebutuhan, situasi
dan kondisi yang ada pada saat pelaksanaan kurikulum. Hasil penelitian tersebut
menunjukkan bahwa :
a. Kebijakan
dinas pendidikan kabupaten/kota dalam membentuk jaringan kurikulum belum
sepenuhnya sesuai dengan panduan jaringan kurikulum yang di keluarkan oleh
pusat kurikulum.
b. Syarat
anggota jaringan kurikulum di tingkat kabupaten/kota, yaitu bagi yang pernah
mengikuti training of trainer (TOT)
tingkat nasional dan belum ada anggota
dari perguruan tinggi dan unsur masyarakat.
c. Pemahaman
kepala sekolah dan guru tentang panduan pengembangan kurikulum yang di
keluarkan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) masih rendah.
d. Masih banyak
guru dan kepala sekolah mengalami masalah dalam mengembangkan kurikulum
terutama dalam membuat silabus dan rancangan pelaksanaan pembelajaran (RPP).
e. Masalah yang
di alami dalam pengembangan materi sesuai kondisi daerah dan kurangnya sumber belajar.
f. Masalah yang
di alami sekolah dalam mengembangkan muatan lokal adalah tidak adanya guru yang
sesuai.
Problem lain yang dimunculkan dari
penambahan jam pelajaran per minggu itu adalah makin menghilangkan otonomi
sekolah, karena waktu yang tersedia untuk mengembangkan kurikulum sendiri makin
sempit. Bagi sekolah-sekolah swasta, kurikulum baru jelas menimbulkan beban
baru bagi yayasan, karena harus memfasilitasi peningkatan kualitas guru lewat
pelatihan, pengadaan perpustakaan yang lengkap, dan pendidikan tambahan agar
guru dapat mengimplementasikan kurikulum baru tersebut secara baik, dengan
biaya ditanggung sendiri oleh pihak yayasan, yang ujungnya dipikul oleh para
orang tua murid.
PENUTUP
Kesimpulan
Kurikulum
2013 merupakan upaya penyempurnaan kurikulum-kurikulum sebelumnya, demi
mewujudkan sistem pendidikan nasional yang kompetitif dan selalu relevan dengan
perkembangan zaman yang senamtiasa menjadi tuntutan. Selain sebagai upaya
penyempurnaan kurikulum dengan inovasi-onovasi yang baik. Namun sampai dengan
saat ini K13 masih menjadi masalah mulai dari tenaga pendidik, peserta didik
yang masih belum memungkinkan untuk bisa menyerap K13, serta kelengkapan
sekolah yang masih belum memadai. 5 tahun sudah K13 di realisasikan ke sekolah-sekolah
yang ada di seluruh kota di indonesia, namun sampai dengan saat ini K13 masih
menjadi masalah yang di hadapi terhadap kependidikan yang ada di
indonesia, mulai dari peserta didik yang
belum atau belum mengerti sistem yang di pakai di K13 serta jam belajar yang di
tambah di dalam K13 tersebut yang hanya membuat peserta didik kualahan serta
membosankan bagi peserta didik itu sendiri, di tambah lagi adanya penerapan
baru dari pemerintah yaitu Full day Schooll, yang sistem pembelajarannya sampai
dengan pukul 15:30 atau bahkan sampai 16:00.
Saran
dengan
adanya masalah yang di hadapi tenaga pendidik serta peserta didik terhadap K13
ini, seharusnya pemerintah bisa meminimalisir hal-hal yang tidak sesuai dengan
kemapuan peserta didik itu sendiri, selain itu menjadi PR tersendiri bagi
pemerintah bagaimana memberikan solusi terhadap masalah yang di hadapi terhadap
penerus bangsa indonesia. K13 merupakan perubahan yang baik bagi kependidikan
yang ada di indonesia, tetapi hal yang baru inilah yang memungkinkan adanya
dampak negatif dan positif. Dari dampak negatif itu lah kita bisa memberikan
solusi terhadap masalah yang di hadapi.
Penulis
berterima kasih kepada pihak yang telah membantu demi terselesainya artikel
penelitian ini. Dan juga penulis memohon maaf jika ada unsur-unsur yang di
sebutkan di dalam artikel ini merasa di rugikan, penulis memohon maaf yang
sebesarnya, selain itu juga penulis memohon maaf kepada pembaca jika ada di
dalam artikel ini banyak kekurangan serta penulisan yang salah, penulis memohon
maaf, kritik dan saran dari pembaca sangat membantu penulis dalam mengembangkan
penulisan artikel berikutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul
Kadim Masaong. 2013. Supervisi
Pembelajaran dan Pengembangan Kapasitas Guru. Bandung: Alfabeta
Triwiyanto
Teguh. 2015. Manajemen Kurikulum dan
Pembelajaran. Jakarta: PT. Bumi Aksara
http://mascerdas.blogspot.co.id/2015/10/v-behaviorurldefaultvmlo_73.html
Di akses tanggal 27 September 2016
http://eka-sulistyawati.blogspot.co.id/2013/11/kurikulum-2013-keluhan-dan-solusinya.html Di akses tanggal 26 Oktober 2016
https://www.tempo.co/read/kolom/2013/07/10/762/Problematika-Implementasi-Kurikulum-2013
Di akses tanggal 28 Oktober 2016
http://www.kompasiana.com/naniekonomi/pelaksanaan-kurikulum-2013-dan-kendala_552fccc86ea834183f8b45f6 di akses tanggal 28 Oktober 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar