Makalah kekuasaan dan Efektifitas Organisasi
BAB I
PENDHULUAN
A.
Latar Belakang
Akhir-akhir ini banyak orang membicarakan masalah krisis kepemimpinan.Konon
sangat sulit mencari kader-kader pemimpin pada berbagai tingkatan. Orangpada zaman
sekarang cenderung mementingkan diri sendiri dan tidak atau kurangperduli pada
kepentingan orang lain, kepentingan lingkungannya. Krisis kepemimpinan ini
disebabkan karena makin langkanya keperdulianpada kepentingan orang banyak,
kepentingan lingkungannya. Sekurang-kurangnyaterlihat ada tiga masalah mendasar
yang menandai kekurangan ini. Pertama adanyakrisis komitmen. Kebanyakan orang
tidak merasa mempunyai tugas dan tanggungjawab untuk memikirkan dan mencari
pemecahan masalah kemaslahatan bersama,masalah harmoni dalam kehidupan dan
masalah kemajuan dalam kebersamaan.Kedua, adanya krisis kredibilitas. Sangat
sulit mencari pemimpin atau kaderpemimpin yang mampu menegakkan kredibilitas
tanggung jawab. Kredibilitas itu dapat diukur misalnya dengan kemampuan untuk menegakkan
etika memikul amanah, setia pada kesepakatan dan janji, bersikap teguh
dalampendirian, jujur dalam memikul tugas dan tanggung jawab yang
dibebankanpadanya, kuat iman dalam menolak godaan dan peluang untuk menyimpang.
Ketiga,masalah kebangsaan dan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Saat
initantangannya semakin kompleks dan rumit. Kepemimpinan sekarang tidak
cukuplagi hanya mengandalkan pada bakat atau keturunan. Pemimpin zaman sekarang
harus belajar, harus membaca, harus mempunyaipengetahuan mutakhir dan
pemahamannya mengenai berbagai soal yangmenyangkut kepentingan orang-orang yang
dipimpin. Juga pemimpin itu harusmemiliki kredibilitas dan integritas, dapat
bertahan, serta melanjutkan misikepemimpinannya. Kalau tidak, pemimpin itu hanya
akan menjadi suatu karikatur yang akan menjadi cermin atau bahan tertawaan
dalam kurun sejarah di kelak dikemudian hari. Mempengaruhi merupakan inti dari kekuasaan,agar seseorang dapat menjadi
pemimpina yang efektif orang itu harus mampu mempengaruhi orang lain, agar mau
menjalankan permintaan,serta menjalankan kebijakannya.
Kekuasaan adalah kapasitas untuk
mempengaruhi sikap dan perilaku orang lain dalam arah yang diinginkan.
Kekuasaan digunakan untuk menjelaskan kapasitas absolut seorang pemimpin
untuk mempengaruhi perilaku atau sikap seseorang atau lebih yang ditunjuk
sebagai target pada satu waktu tertentu.
Otoritas
melibatkan hak, prerogatif, kewajiban, dan tugas yang berkaitan dengan
posisi khusus dalam organisasi atau sistem sosial. Otoritas pemimpin biasanya
meliputi hak untuk membuat keputusan khusus untuk organisasi
Untuk memahami apa yang membuat manajer menjadi efektif membutuhkan
analisis kompleks terhadap jaringan hubungan dan proses mempengaruhi yang
ditemukan dalam semua organisasi.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Bagaimana cara memimpin yang efektif.?
2.
Untuk mengetahui maksud dari kekuasaan di dalam
organisasi.?
3.
Untuk mengetahui maksud dari ke efetifitas
organisasi.?
4.
Untuk mengetahui ciri – ciri pemimpin dan
bagaimana menjadi seorang leader ship yang mampu meningkatkan kinerja.?
C.
Tujuan Umum
1.
Mengetahui apa dan bagaimana pemimpin dan cara
bagaimana memimpin yang efektif.
2.
mampu
membedakan ciri – ciri pemimpin dan bagaimana menjadi seorang leader ship
yang mampu meningkatkan kinerja, serta dapat mengimplementasikan nya di dalam
sebuah organisasi atau masyarakat.
BAB II
LANDASAN TEORI
A.
Pengertian kekuasaan dan Efektifitas
Organisasi
1. Pengertian Kekuasaan
Membahas masalah kekuasaan nampaknya
merupakan suatu hal yang sangat penting karena hakekat dari pada kepemimpinan
adalah masalah pengaruh dan hakekat dari pengaruh dalam kekuasaan, seperti di
kemukakan oleh Joseph Reitz dan Linda N Jewell (1985 ) yang mengatakan
influence is the process by which managers affect other behavior. Power is the
ability to exert influence. Keberhasilan seorang pemimpin banyak ditentukan
oleh kemampuannya dalam memahami situasi serta keterampilan dalam menentukan
macam kekuasaan yang tepat untuk merespon tuntutan situasi. Kekuasaan seperti
yang dikemukakan oleh Gary A Yuki ( 1989 ) adalah potensi agen untuk
mempengaruhi sikap dan perilaku orang lain ( target respon ), Sementara David
dan Newstroom (1989 ) membedakan kekuasaan dan kewenangan, kekuasaaan adalah
kemampuan untuk mempengaruhi orang lain sedangkan wewenang merupakan
pendelegasian dari manajemen yang lebih tinggi.
Kekuasaan adalah kemampuan atau
kualitas seseorang atau kelompok yang melekat dalam satu interaksi antara dua
atau lebih individu maupun kelompok.
Stephen P Robbins ( 1996 ),
Mengatakan bahwa aspek yang paling penting dari kekuasaan adalah bahwa
kekuasaan itu merupakan fungsi ketergantungan. Dalil ketergantungan umum
mengemukakan makin besar ketergantungan B pada A maka makin besar kekuasaan yang
di miliki A terhadap B. Bila A memiliki apa saja yang di perlukan oleh
orang-orang lain tetapi hanya A sendiri yang mengendalikan, A membuat mereka
tergantung pada A dan karenanya A memperloleh kekuasaan terhadap mereka.
2.
Pengertian Efektifitas
Efektifitas adalah keberhasilan mencapai tujuan
organisasi. Organisasi yang efektif adalah organisasi yang mencapai tujuan.
Efektifitas sebagai tingkat pencapaian organisasi dalam jangka pendek dan
jangka panjang. Organisasi dapat disebut efektif ketika dapat melaksanakan
kewajibannya dalam memenuhi :
v Kepuasan pelanggan
v Mencapai
visi organisasi
v Pemenuhi
aspirasi
v Menghasilkan
keuntungan bagi organisasi
v Pengembangan
sumber daya manusia organisasi
v Aspirasi
yang dimiliki, serta memberikan dampak positif bagi masyarakat di luar
organisasi.
Menurut Bemard dalam DJAFRI Novianty
( 2014: 130 ) efektifitas organisasi merupakan kemahiran dalam sasaran spesifik
dari organisasi yang bersifat ( “if it accomplished its specific objective aim”
) . Empat hal yang menggambarkan tentang efektifitas, yaitu:
1. Mengerjakan hal-hal
yang benar, di mana sesuai dengan yang seharusnya di selesaikan sesuai dengan
rencana dan aturannya.
2. Mencapai
tingkat di atas pesaing, di mana mampu menjadi yang terbaik dengan lawan yang
lain sebagai yang terbaik.
3. Membawa
hasil, di mana apa yang telah di kerjakan mampu memberikan hasil yang
bermanfaat.
4. Menangaani
tantangan masa depan.
Jadi dapat di katakan bahwa
efektifitas selalu berikait dengan tujuan. Efektifitas merupakan salah satu di
mensi dari produktifitas ( hasil ) yaitu mengarah pada pencapaian unjuk kerja
yang maksimal, yaitu pencapaian target yang berkaitan dengan kualitas,
kuantitas, dan waktu. Efektifitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa
jauh target ( kuantitas, kualitas dan waktu) telah di capai. Efektifitas adalah
jangkauan usaha suatu program sebagai suatu sistem dengan sumber daya dan
sarana tertentu untuk memenuhi tujuan dan sasarannya tampa melumpuhkan cara dan
sumber daya itu serta tampa memberi tekanan yang tidak wajar terhadap
pelaksanaannya.
BAB III
PEMBAHASAN
- Kekuasaan
Dan Wewenang
Untuk dapat mengusahakan orang lain bekerjasama dengannya, maka pemimpin
dapat menggunakan kewibawaan tertentu atau diberikan kewenangan/kekuasaan
formal tertentu. Kekuasaan merupakan suatu bagian yang merasuk ke seluruh sendi
kehidupan organisasi. Bahkan dikatakan oleh Mc Clelland kekuasaan merupakan
salah satu kebutuhan manusia. Manager dan non manager menggunakan kekuasaan
dalam aktivitas sehari-harinya. Mereka memanipulasi kekuasaan untuk mencapai
tujuan dan memperkuat kedudukan mereka. Dalam teori otoritas formil, kewenangan
adalah suatu kekuasaan atau hak untuk bertindak, untuk memerintah atau menurut
tindakan oleh orang lain.
Kekuasaan merupakan kemampuan mempengaruhi orang lain untuk mencapai
sesuatu dengan cara yang diinginkan. Studi tentang kekuasaan dan dampaknya
merupakan hal yang penting dalam manajemen. Karena kekuasaan merupakan
kemampuan mempengaruhi orang lain, maka mungkin sekali setiap interaksi dan
hubungan sosial dalam suatu organisasi melibatkan penggunaan kekuasaan. Cara
pengendalian unit organisasi dan individu di dalamnya berkaitan dengan
penggunaan kekuasaan. Kekuasaan manager yang menginginkan peningkatan jumlah
penjualan adalah kemampuan untuk meningkatkan penjualan itu.
Kekuasaan melibatkan hubungan antara dua orang atau lebih. Dikatakan A
mempunyai kekuasaan atas B, jika A dapat menyebabkan B melakukan sesuatu di
mana B tidak ada pilihan kecuali melakukannya. Kekuasaan selalu melibatkan
interaksi sosial antar beberapa pihak, lebih dari satu pihak. Dengan demikian
seorang individu atau kelompok yang terisolasi tidak dapat memiliki kekuasaan
karena kekuasaan harus dilaksanakan atau mempunyai potensi untuk dilaksanakan
oleh orang lain atau kelompok lain:
Kekuasaan amat erat hubungannya dengan wewenang. Tetapi kedua konsep ini
harus dibedakan. Kekuasaan melibatkan kekuatan dan paksaan, wewenang merupakan
bagian dari kekuasaan yang cakupannya lebih sempit. Wewenang tidak menimbulkan
implikasi kekuatan. Wewenang adalah kekuasaan formal yang dimiliki oleh
seseorang karena posisi yang dipegang dalam organisasi. Jadi seorang bawahan
harus mematuhi perintah manajernya karena posisi manajer tersebut telah
memberikan wewenang untuk memerintah secara sah.
Unsur yang ada di dalam wewenang :
·
Wewenang ditanamkan pada posisi seseorang. Seseorang
mempunyaiwewenang karena posisi yang diduduki, bukan karena karakteristik
pribadinya;
·
Wewenang tersebut diterima oleh bawahan. Individu pada
posisi wewenang yang sah melaksanakan wewenang dan dipatuhi bawahan karena dia
memiliki hak yang sah; serta
·
Wewenang digunakan secara vertikal. Wewenang mengalir
dari atas ke bawah mengikuti hierarkii organisasi.
Konsep lain yang sangat dekat dengan kekuasaan adalah pengaruh. Pengaruh
merupakan suatu transaksi sosial di mana seseorang atau sekelompok orang yang
lain untuk melakukan kegiatan sesuai dengan harapan orang atau ke!ompok yang
mempengaruhi. Dengan demikian kita bisa mendefinisikan kekuasaan sebagai
kemampuan untuk mempunyai pengaruh. Pembedaan kekuasaan dengan pengaruh akan
lebih memperjelas pemahaman atas konsep ini. Tetapi para penulis juga sering
menggunakan konsep pengaruh dengan maksud menjelaskan kekuasaan, begitu
sebaliknya. Dalam modul ini istilah pengaruh dan kekuasaan bisa dipakai secara
bergantian.
B.
Basic Kekuasaan
Kekuasaan dapat berasal dari berbagai sumber. Bagaimana kekuasaan tersebut
diperoleh dalam suatu organisasi sebagian besar tergantung jenis kekuasaan yang
sedang dicari. Kekuasaan dapat berasal dari basis antar pribadi, struktural,
dan situasi.
- Kekuasaan
Antarpribadi
John R.P. French dan Bertram Raven mengajukan lima basis kekuasaan antar
pribadi sebagai berikut : kekuasaan legitimasi, imbalan, paksaan, ahli, dan
panutan.
2. Kekuasaan Legitimasi
Kekuasaan legitimasi adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang
lain karena posisinya. Seorang yang tingkatannya lebih tinggi memiliki
kekuasaan atas pihak yang berkedudukan lebih rendah. Dalam teori, orang yang
mempunyai kedudukan sederajat dalam organisasi, misalnya sesama manajer,
mempunyai kekuasaan legitimasi yang sederajat pula. Kesuksesan penggunaan
kekuasaan legitimasi ini sangat dipengaruhi oleh bakat seseorang mengembangkan
seni aplikasi kekuasaan tersebut. Kekuasaan legitimasi sangat serupa dengan
wewenang
Selain seni pemegang kekuasaan, para bawahan memainkan peranan penting
dalam pelaksanaan penggunaan legitimasi. Jika bawahan memandang penggunaan
kekuasaan tersebut sah, artinya sesuai dengan hak-hak yang melekat, mereka akan
patuh. Tetapi jika dipandang penggunaan kekuasaan tersebut tldak sah, mereka
mungkin sekali akan membangkang. Batas-batas kekuasaan ini akan sangat
tergantung pada budaya, kebiasaan dan sistem nilai yang berlaku dalam
organisasi yang bersangkutan
3. Kekuasaan Imbalan
Kekuasaan imbalan didasarkan atas kemampuan seseorang untukmemberikan
imbalan kepada orang lain (pengikutnya) karena kepatuhan mereka. Kekuasaan
imbalan digunakan untuk mendukung kekuasaan legitimasi. Jika seseorang
memandang bahwa imbalan, baik imbalan ekstrinsik maupun imbalan intrinsik, yang
ditawarkan seseorang atau organisasi yang mungkin sekali akan diterimanya,
mereka akan tanggap terhadap perintah. Penggunaan kekuasaan imbalan ini amat
erat sekali kaitannya dengan teknik memodifikasi perilaku dengan menggunakan
imbalan sebagai faktor pengaruh.
4. Kekuasaan
Paksaan
Kekuasaan imbalan seringkali dilawankan dengan kekuasaan paksaan, yaitu
kekuasaan untuk menghukum. Hukuman adalah segala konsekuensi tindakan yang
dirasakan tidak menyenangkan bagi orang yang menerimanya. Pemberian hukuman
kepada seseorang dimaksudkan juga untuk memodifikasi perilaku, menghukum
perilaku yang tidak baik/merugikan organisasi dengan maksud agar berubah
menjadi perilaku yang bermanfaat. Para manajer menggunakan kekuasaan jenis ini
agar para pengikutnya patuh pada perintah karena takut pada konsekuensi tidak
menyenangkan yang mungkin akan diterimanya. Jenis hukuman dapat berupa
pembatalan pemberikan konsekwensi tindakan yang menyenangkan; misalnya
pembatalan promosi, pembatalan bonus; maupun pelaksanaan hukuman seperti skors,
PHK, potong gaji, teguran di muka umum, dan sebagainya. Meskipun hukuman
mungkin mengakibatkan dampak sampingan yang tidak diharapkan, misalnya perasaan
dendam, tetapi hukuman adalah bentuk kekuasaan paksaan yang masih digunakan
untuk memperoleh kepatuhan atau memperbaiki prestasi yang tidak produktif dalam
organisasi.
1) Kekuasaan ahli
Seseorang mempunyai kekuasaan ahli jika ia memiliki keahlian khusus yang
dinilai tinggi. Seseorang yang memiliki keahlian teknis, administratif, atau
keahlian yang lain dinilai mempunyai kekuasaan, walaupun kedudukan mereka
rendah. Semakin sulit mencari pengganti orang yang bersangkutan, semakin besar
kekuasaan yang dimiliki.Kekuasaan ini adalah suatu karakteristik pribadi,
sedangkan kekuasaan legitimasi, imbalan, dan paksaan sebagian besar ditentukan
oleh organisasi, karena posisi yang didudukinya. Seorang montir mungkin sekali
memiliki kekuasaan ahli karena dia mengetahui seluk beluk mesin secara rinci,
lebih dari orang lain.
2) Kekuasaan Panutan
Banyak individu yang menyatukan diri dengan atau dipengaruhi oleh seseorang
karena gaya kepribadian atau perilaku orang yang bersangkutan. Karisma orang
yang bersangkutan adalah basis kekuasaan panutan. Seseorang yang berkarisma ;
misalnya seorang manajer ahli, penyanyi, politikus, olahragawan; dikagumi
karena karakteristiknya. Derajat kekuasaan panutan ditentukan oleh kekuatan
pengaruh karisma terhadap orang lain.
Dengan demikian basis kekuasaan antar pribadi dapat dikategorikan menjadi
dua macam, organisasi dan pribadi. Kekuasaan legitimasi, imbalan dan paksaan
terutama ditentukan oleh organisasi, posisi, kelompok formal atau pola
interaksi khusus. Kekuasaan legitimasi seseorang dapat diubahdengan
mengalihtugaskanorang yang bersangkutan, merumuskan kembali uraian pekerjaan
atau mengurangi kekuasaan orang yang bersangkutan dengan menata kembali
organisasi. Di lain pihak, kekuasaan panutan dan kekuasaan ahli sangat bersifat
pribadi, tidak tergantung pada posisi dalam organisasi.
Kelima jenis kekuaaan antara pribadi di atas tidaklah berdiri sendiri atau
terpisahpisah. Seseorang dapat menggunakan basis kekuasaan tersebut secara
efektif melalui berbagai kombinasi. Mungkin juga penggunaan basis kekuasaan
tertentu dapat mempengaruhi jenis kekuasaan yang lain. Misalnya, seorang
manajer yang menggunakan kekuasaan paksan untuk menghukum seorang bawahan
mungkin akan kehilangan kekuasaan panutannya karena kebanyakan orang tidak
menyukai atau tidak mengagumi manajer yang menghukumnya.
3) Kekuasaan Struktural dan Situasional
Kekuasaan terutama ditentukan oleh struktur didalam organisasi.Struktur
organisasi di pandang sebagai mekanisme pengendalian yang mengatur organisasi.
Dalam tatanan struktur organisasi, kebijaksanan ngambilan keputusan
dialokasikan keberbagai posisi. Selain itu struktur membentuk pola komunikasi
dan arus informasi. Jadi struktur organisasi menciptakan kekuasaan dan wewenang
formal, dengan menghususkan orang-orang tertentu untuk melaksanakan tugas
pekerjaan dan mengambil keputusan tertentu dengan memanfaatkan kekuasaan
informal mungkin timbul karena truktur informasi dan komunikasi dalam sistem
tersebut . Posisi formal dalam organisasi amat erat hubungannya dengan
kekuasaan dan wewenang yang melekat. Tanggung jawab, wewenag dan berbagai
hak-hak yang lain tumbuh dari posisi seseorang. Bentuk lain kekuasaan struktur
timbul karena sumber daya, pengambilan keputuan, dan informasi.
- Sumber
daya
Seorang ahli mengemukakan bahwa kekuasaan struktur seorang berasal dari :
pertama, penggunaan sumber daya, informasi, dan dukungan ; kedua, kemampuan
memperoleh kerjasama untuk melakukan pekerjaan yang penting. Kekuasan terjadi
jika seseorang mempunyai saluran terbuka atas sumber daya, dana tenaga kerja,
teknologi, bahan mentah, pelanggan dan sebagainya. Dalam organisasi sumber daya
vital dialokasikan dibawah sepanjang garis hierarki organisasi. Manejar tingkat
atas mempunyai kekuasaan lebih banyak untuk mengalokasikan sumber daya
dibandingkan dengan manajer tingkat bawahannya. Manajer tingkat yang lebih
rendah memperoleh sumber daya yang diberikan oleh manajer tingkat yang lebih
atas. Untuk menjamin pencapaian tujuan manajer tingkat yang lebih atas
mengalokasikan sumber daya atas dasar prestasi dan kepatuhan. Jadi, seorang
manejer tingkat atas biasanya mempunyai kekuasaan atas manajer yang lebih
rendah harus menerima sumber daya dari atas untuk mencapai tujuan. Hubungan
ketergantungan hierarki tersebut terjadi karena keterbatasan sumber daya yang
terbatas harus dialokasikan seoptimal mungkin demi pencapaian tujuan. Tanpa
kepatuhan yang cukup tujuan dan permintaan top manajer, manajer pada tingkat
yang lebih rendah tidak dapat menerima sumber daya yang diperlukan untuk
melaksanakan pekerjaan. Pebagian pekerjaan, misalnya posisi dalm hirarki
organiasi, memberikan hak istimewa kepada mnajemen pada tingkat yang lebih
tinggi untuk mangalokasikan sumber daya
4). Kekuasaan Pengambilan Keputusan
Derajat seseorang atau sub unit dapat mempengaruhi pengambilan keputusan
akan menentukan kadar kekuasaan. Seseorang atau sub unit yang memiliki
kekuasaan dapat mempengaruhi jalannya proses pengembalian keputusan,
alternative apa yang seyogyanya dipilih dan kapan keputusannya diambil
C.
Kekuasaan Informasi
Memiliki akses atau (jangkauan) atas informasi yang relevan dan penting
merupakan kekuasan. Gambaran yang benar tentang kekuasan seseorang tidak hanya
disediakan oleh posisi orang yang bersangkutan, tetapi juga oleh penguasan
orang yng bersangkutan, tetapi juga oleh penguasan orang yang bersangkutan atas
informasi yang relevan. Seseorang akuntan dalam struktur organisasi umumnya
tidak memiliki basis kekuasaan antar pribadi khusus yang kuat atau jelas dalam
struktur orgnisasi, tetapi mereka memiliki kekuasan karena mereka mengendalikan
informasi yang penting.
Selanjutnya situasi organisasi dapat berfungsi sebagai sumber kekuasaan
atau ketidakkekuasaan. Manajer yang sangat berkuasa muncul karena ia mengalokasikan
sumber daya yang dibutuhkan, mengambil keputusan yang penting, dan memiliki
jgkun informsi yang penting. Dialah yang memungkinkan banyak hal yang terjadi
dalam organisasi. Sebaliknya, manajer yang tidak mempunyai kekuasan tidak
mempunyai sumber daya atau jangkuan informsi atau hak-hak prerogatif dalam
pengambilan keputusan yang diperlukan agar produktif.
D.
KRITERIA SEORANG PEMIMPIN
Siapa orang yang bisa diangkat atau dipilih untuk menjadi pemimpin. Untuk
menjawab pertanyaan ini perlulah kita menentukan kriteria yang akan dipakai
untuk memilih pimpinan tersebut. Seorang pemimpin itu haruslah paling sedikit
mampu untuk memimpin para bawahan untuk mencapai tujuan organisasi dan juga
mampu untuk menangani hubungan antar karyawan. Mempunyai interaksi antar
personnel yang baik dan mempunyai kemampuan untuk bisa menyesuaikan diri dengan
keadaan.
Sebagai sifat yang berguna bagi pemimpin yang dapat dipertimbangkan adalah
:
·
Keinginan untuk menerima tangun jawab
Apabila seseorang pemimpin menerima kewajiban untuk mencapai suatu tujuan,
berarti ia bersedia untuk bertanggung jawab kepada pimpinannya atas apa-apa
yang dilakukan bawahanya.Disini pemimpin harus mampu mengatasi bawahanya,
mengatasi tekanan kelompok informal, bahkan kalau perlu juga harus serikat
buruh .Hampir semua pemipin merasa bahwa pekerjaan lebih banyak menghabiskan
energi daripada jabatan bukan pimpinan.
·
Kemampuan untuk perceptif
Perceptive menunjukan Kemampuan untuk mengamati atau menemukan kenyataan
dari suatu lingkungan. Setiap pimpinan haruslah mengenai tujuan organisasi
sehingga mereka bisa bekerja untuk membantu mencapai tujuan tersebut. Disini ia
memerlukan kemampuan untuk untuk memahami bawahan, sehingga ia dapat mengetahui
kekuatan dan kelemahan mereka serta juga berbagai ambisi yang ada. Di samping
itu pemimpin harus juga mempunyai persepsi intropektif ( menilai diri sendiri )
sehingga ia bias mengetahui kekuatan, kelemahan dan tujuan yang layak baginya.
Inilah yang disebut kemampuan “Perceptive”
·
Kemampuan untuk bersikap objektif
Objektivitas adalah kemampuan untuk melihat suatu peristiwa atau merupakan
perluasan dari kemampuan perceptive.Apabila perceptivitas menimbulkan kepekaan
terhdap fakta, kejadian dan kenyatan-kenyatan yang lain. Objektivitas membantu
pemimpin untuk meminimumkan faktorfaktor emosional dan pribadi yang mungkin
mengaburkan realitas.
·
Kemampuan untuk menentukan prioritas
Seorang pemimpin yang pandai adalah seseorang yang mempuanyai kemampuan
untuk memiliki dan menentukan mana yang penting dan mana yang tidak. Kemampuan
ini sangat diperlukan karena pada kenyataanya sering masalah-masalah yang harus
dipecahkan bukan datang satu per satu tetapi seringkali masalah datang
bersamaan dan berkaitan antara satu dengan yang lainnya.
·
Kemampuan untuk berkomunikasi
Kemamapuan untuk memberikan dan menerima informasi merupakan keharusan bagi
seorang pemimpin. Seorang pemimpin adalah orang yang bekerja dengan menggunakan
bantuan orang lain, karena itu pemberian perintah, penyampaian informasi kepada
orang lain mutlak perlu dikuasai. Sementara itu menurut study yang dilakukan
Kurt Lewin dan temn-temn di
E.
PRILAKU PEMIMPIN
Pemimpin yang efektif kelihatannya tidak mempunyai sifat-sifat yang berbeda
dengan mereka yang tidak efektif sehingga para ahli perilaku management tidak
lagi meneliti tentang apa persayaratan ( kriteria ) seorang pemimpin yang
efektif melainkan para ahli ini meneliti tentang hal-hal yang dilakukan oleh
pemimpin yang efektif.Bagaimana mereka mendelegan tugas,bagaimana mereka
mengambil keputusan, bagaimana mereka berkomunikasi dan memotivasi para bawahan
Seorang pemimpin memang harus memiliki Kwalitas tertentu ( Kriteria tertentu )
namun disamping itu ada suatu cara terbaiak untuk memimpin tidak seperti
kwalitas pemimpin, maka perilaku pemimpin merupakan sesuatu yang dapat
dipelajari, jadi seseorang yang dilatih dengan kepemimpinan yang tepat akan
bisa menjadi pemimpin yang efektif.
Perilaku pemimpin ini disebut juga Gaya Kepemimpinan ( Style of Leadership
). Berbagai gaya kepemimpinan telah diteliti dan ditemukan bahwa setiap
pemimpin telah diteliti dan ditemukan bahwa setiap pemimpin bisa mempunyai gaya
kepemimpinan yang berbeda antara yang satu dengan yang lain, dan tidak mesti
suatu gaya kepemimpinan yang satu lebih baik atau lebih jelek daripada gaya
kepemimpinan yang lainya. Para ahli mencoba mengelompokkan gaya kepemimpinan
dengan menggunakan sutu dasar tertentu. Dasar yang sering dipergunakan adalah
tugas yang dirasakan harus dilakukakan oleh pemimpin, Kewjiban yang pimpinan
harapakan diterima oleh bawahan dan falsafah yang dianut oleh pimpinan untuk
pengembangan dan pemenuhan harapan para bawahan. Ada berbagai gaya kepemimpinan
antara lain :
·
The anthocratic
leader
Seorang pemimpin yang otokratik menganggap bahwa semua kewajiban untuk
mengambil keputusan, untuk menjalankan tindakan, dan untuk mengarahkan tindakan,
memberi motivasi dan mengawasi bawahanya terpusat ditanganya. Seorang pemimpin
yang otokratik mungkin memutuskan, dan punya perasaan bahwa bawahanya tidak
mampu untuk baranggapan mempunyai posisi yang kuat untuk mengarahkan dan
mengawasi pelaksanaan pekerjaaan dengan maksud untuk meminimumkan penyimpangan
dari arah yang ia berikan.
·
The Paticipative
Leader
Apabila seseorang pemimpin menggunakan gaya partisipasi ia menjalankan
kepemimpinan dengan konsultasi. Ia tidak mendelegasikan wewenangnya untuk
membuat keputusan akhir dan untuk memberikan pengarahan tertentu kepada
bawahanya. Tetapi ia mencari berbagai pendapat dan pemikiran dari pada
bawahanya mengenai keputusan yang akan diambil. Ia akan secara serius
mendengarkan dan menilai pikiran pikiran para bawahanya dan menerima
sumbangan pikiran mereka .Sejauh pemikiran tersebut bias dipraktekan .Pemimpin
dengan gaya partisipatif akan mendorong kemampuan mengambil keputusan dari pada
bawahanya sehingga pikiran –pikiran mereka akan selalu meningkat dan makin
matang . Para bawahanya juga didorong agar meningkatkan kemampuan mengendalikan
diri dan menerima tanggung jawab yang lebih besar. Pemimpin akan lebih “
Supportive” dalam kontak dengan para bawahan dan bukan menjadi bersikap
diktator. Meskipun tentu saja. Wewenang terakhir dalam penganbilan keputusan
terletak pada pimpinan.
·
The Free
Rein Leader
Dalam gaya kepemimpinan “ Free rein “ pemimpin mendelegasikan wewenang
untuk mengambil keputusan kepada para bawahanya dengan agak lengakap. Pada
prinsipnya pimpinan akan mengatakan “ inilah pekerjaan yang harus saudara
lakukakn. Saya tidak peduli bagaimana kalau mengerjakannya, asal kan pekerjaan
tersebut bisa diselesaikan dengan baik “. Disini pimpinan menyerahkan tanggung
jawab atas pelaksanaan pekerjaan tersebut kepada para bawahanya. Dalam artian
pimpinan menginginkan agar para bawahan bisa mengendaliakan diri mereka sendiri
di dalam menyelesaikan pekerjaan tersebut. Pimpinan tidak akan membuat
peraturan-peraturan tentang pelaksanaan pekerjaan tersebut, dan hanya para
bawahan dituntut untuk memiliki kemampuan/keahlian yang tinggi .
- Pengambilan
Keputusan
Pengambilan keputusan dapat dilihat sebagai salah satu fungsi seorang
pemimpin . Dalam pelaksanan kegiatan untuk menerjemahkan berbagi keputusan
berbagai alternatif dapat dilakukan dan untuk itu pemilihan harus dilakukan.
Pengambilan keputusan adalah soal yang berat karena sering menyangkut
kepentingan banyak orang.Tidak ada sesuatu yang pasti dalam pengambilan
keputusan . Pemimpin harus memilih diantara alternatif yang ada dan
kemungkianan implikasi atau akibat suatu pengambilan keputusan tertentu.
F.
Hakekat Pengambilan Keputusan
Pengambilan keputusan pada hakekatnya adalah suatu pendekatan yang
sistematis terhadap hakekat suatu masalah . Pengumpulan fakta-fakta dan data,
penentuan yang matang dari alternatif yang dihadapi dan mengambil tindakan
–tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling tepat. Dari
pengertian ini dapat diartikan beberapa hal.
·
Dalam proses pengambilan keputusan tidak ada hal yang
terjadi secara kebetulan.
·
Pengambilan keputusan harus didasarkan kepada
sistematika tertentu, antara lain : dengan mempertimbangkan kemampuan
organisasi, personnel yang tersedia, situasi lingkungan yang akan digunakan
untukmelaksanakan keputusan yang diambil.
·
Sebelum suatu masalah dapat dipecahkan dengan baik,
hakekat dari masalah tersebut harus diketahui dengan jelas.
·
Pemecahan masalah tidak dapat dilakukan
dengan coba-coba tetapi harus didasarkan pada fakta yang terkumpul secara
sistematis, baik dan dapat dipercaya.
·
Keputusan yang baik adalah keputusan yang diambil dari
berbagi alternatif yang ada setelah alternatif-alternatif itu dianalisa secara
matang.
G.
Langkah-langkah Pengambilan Keputusan
Masalah yang dihadapi oleh seorang pemimpin terikat pada suatu tempat,
situasi, orang dan waktu tertentu. Masalah dalam pengambilan keputusan
senantiasa dihubungkan dengan tujuan yang jelas. Jenis-jenis masalah yang
dihadapi oleh seorang pemimpin berdasarkan internitas masalahnya dapat
digolongkan menjadi masalah yang sederhana dan masalah yang komplek. Masalah
yang sederhana ialah masalah yang mengandung ciri-ciri : kecil, berdiri sendiri
dan tidak/kurang mempunyai kaitan dengan masalah lain. Pemecahannya biasanya
tidak memerlukan pemikiran yang luas tetapi cukup dilakukan secara individual,
yang umumnya didasarkan kepada pengalaman, informasi yang sederhana dan
wewenang yang melekat pada jabatan. masalah yang komplek yaitu masalah yang
mempunyai ciri-ciri : besar, tidak berdiri sendiri sendiri, berkaitan dengan
masalah-masalah lain, dan, mempunyai akibat yang luas. Pemecahannya umumnya
dilakukan bersamaan antara pimpinan dengan stafnya. Dilihat dari faktor
penyebabnya, masalah yang dihadapi dapat berupa masalah yang jelas penyebabnya
(structure problem) dan masalah yang tidak. Jelas
penyebabnya (unstructured problem). Masalah yang jelas penyebabnya, factor
penyebabnya jelas. bersifat rutin dan biasanya timbul berulang-ulang, sehingga
pemecahannya dapat dilakukan dengan proses pengambilan keputusan yang bercorak
rutin dan dibakukan. Proses pengambilan keputusannya pada dasarnya telah
ditentukan langkah-langkah tertentu, relatif mudah untuk memperhitungkan hasil
serta akibat-akibatnya. Masalah yang tidak jelas penyebabnya yaitu masalah yang
timbul sebagai kasus yang menyimpang dari masalah organisasl yang bersifat
umum, factor penyebabnya tidak jelas. Tehnik pengambilan keputusannya disebut
nonprogrammed decision making technique, dimana diperlukan informasi tambahan,
analisa, daya cipta, pertimbangan serta penilaian kasus. Pengambilan keputusan
antara lain juga diartikan sebagai suatu tehnik memecahkan suatu masalah dengan
mempergunakan tehnik-tehnik ilmiah. Secara singkat dapat dikatakan bahwa ada 7
langkahyang perlu diambil dalam usaha memecahkan masalah dengan mempergunakan
teknik-teknik ilmiah. Langkahlangkah itu adalah:
·
Mengetahui hakekat dari pada masalah yang dihadapi,
dengan perkataan lain mendefinisikan masalah yang dihadapi itu dengan
setepat-tepatnya;
·
Mengumpulkan fakta dan data yang relevant
·
Mengolah fakta dan data tersebut;
·
Menentukan beberapa alternatif yang mungkin ditempuh;
·
Memilih cara pemecahan dari alternatif-alternatif yang
telah diolah dengan matang;
·
Memutuskan tindakan apa yang hendak dilakukan
·
Menilai hasil-hasil yang diperoleh sebagai akibat
daripada keputusan yang telah diambil.
Ketujuh langkah tersebut seolah-olah mudah untuk diambil, akan tetapi dalam
kenyataannya yang telah diuji melalui berbagai eksperimendan penelitian,
pengambilan ketujuh langkah itu tidaklah mudah. Implikasinya ialah setiap
pimpinan harus terus berusaha untuk meningkatkan kemampuannya mempergunakan
tehniktehnik ilmiah dimaksud.
H.
Efektifitas Organisasi
Terdapat sejumlah jenis pendekatan yang di kemukakan oelh para ahli dalam
membahas efetifitas organisasi. Menurut Lubis dan Husaini dalam DJAFRI Novianty
( 2014: 132-134 ) terdapat tiga pendekatan yang dapat di gunakan untuk mengukur
efektifitas organisasi, yaitu:
1. Pendekatan
sasaran ( goal aproach )
Pendekatan ini memfokuskan perhatian
terhadap aspek output yaitu mengukur keberhasilan organisasi dalam mencapai
tingkatan output yang di rencanakan. Jadi efektifitas organisasi mengukur
sejauh mana organisasi berhasil merealisasikan sasaran yang akan di capai.
Sasaran yang penting di
perhatikan dalam pengukuran efektifitas dengan pendekatan ini adalah sasaran
yang sebenarnya ( Operaive goal ). pengukuran efektifitas dengan menggunakan
sasaran yang sebenarnya akan memberikan hasil yang lebih realisitis dari pada pengukuran
efektifitas berdasarkan sasaran resmi ( official goal ). Indikator pencapaian
efeektifitas dalam pendekatan ini di antaranya efesiensi organisasi,
produktifitas tinggi, keuntungan yang maksimal, pertumbuhan organisasi,
stabilitasi organisasi, dan kesejahteraan karyawan.
2. Pendekatan
Sumber ( System resource aproach )
Pendekatan in mencoba mengukur
efektifitas dari sisi imput organisasi, yaitu dengan mengukur keberhasilan
organisasi dalam mendapatkan sumber-sumber yang di butuhkan untuk mencapai performansi
yang baik. Pendekatan ini memandang bahwa organisasi mempunyai hubungan yang
merata dengan lingkungan karena dari lingkungan di peroleh sumber-sumber yang
merupakan input bagi organisasi dan output yang di hasilkan juga akan di
leparkan lagi kepada lingkungan.
Sejumlah di mensi yang
dapat di gunakan untuk mengukur efektifitas dengan pendekatan sumber yaitu:
1.
Kemampuan organisasi untuk memanfaatkan lingkungan
untuk memperoleh berbagai jenis sumber yang bersifat langkah dan nilainya
tinggi.
2.
Kemampuan para pengambil keputusan dala organisasi
untuk meninterpretasikan sifat-sifat lingkungan yang tepat.
3.
Kemampuan organisasi untuk menghasilkan output
tertentu dengan menggunakan sumber-sumber yang berhasil di peroleh
4.
Kemampuan organisasi dalam memeliharan kegiatan
operasionalnya sehari-hari
5.
Kemampuan organisasi untuk bereaksi dan menyusuaikan
diri terhadap perubahan lingkungan.
3. Pendekatan
Proses ( proccess aproach )
Pendekatan ini menganggap
efektifitas sebagai efesiensi dan kondisi organisasi internal. Pada organisasi
yang efektif, proses internal berjalan dengan lancar, karyawan bekerja dengan
kegembiraan dan kepuasan. Pendekatan ini di sebut juga sebagai proses internal
karena memusatkan perhatian pada kegiatan yang di lakukan terhadap sumber-sumber
yang di miliki oleh organisasi. Berbagai komponen yang dapat menunjukan
efektifitas organisasi berdasarkan pendekatan ini, yaitu :
1. Perhatian
atasan terhadap karyawan
2. Kerjasama,
dan loyalitas kelompok kerja
3. Saling
percaya dan komunikasi antara karyawan dengan pimpinan
4. Desentralisasi
dalam pengambilan keputusan
5. Adanya
komunikasi vertikal dan horizontal yang lancar dalam organisasi
6. Adanya usaha
setiap individu maupun keseluruhan organisasi untuk mencapai tujuan yang telah
di rencanakan
7. Organisasi
dan bagian-bagian bekerja sama dengan baik dan konflik yang terjadi selalu di
selesaikan dengan acuan kepentingan organisasi.
BAB IV
PENUTUP
- Kesimpulan
Seorang pemimpin yang efektif harus mempunyai keberanian untuk mengambil keputusan
dan memiliki tanggung jawab atas aklbat dan resiko yang timbul sebagai
konsekwensi daripada keputusan yang diambilnya Tentunya dalam mengambil
keputusan. Seorang pemimpin harus punya pengetahuan, keterampilan, informasi
yang mendalam dalam proses menyaring satu keputusan yang tepat. Disamping itu,
seorang pemimpin yang efektif adalah seseorang yang dapat mempengaruhi dan
mengarahkan segala tingkah laku dari bawahan sedemikian rupa sehingga segala
tingkah laku bawahan sesuai dengan keinginan pimpinan yang bersangkutan. Untuk
itu seorang pemimpin setidaknya harus memiliki kriteria-kriteria tertentu,
misalnya kemampuan bisa “perceptive” dan objektif. Dalam mengarahkan dan
memotivasi bawahan agar melakukan pekerjaan dengan sesuai, seorang pemimpin bisa
memilih suatu gaya kepemimpinan tertentu apakah gaya autokratis, gaya
partisipatif dan bahkan gaya Free Rein yang sesuai dengan situasi dan
lingkungan para bawahan. Hanya dengan jalan demikian pencapaian tujuan dapat
terlaksana dengan efisien dan efektif.
2. Saran
·
Seorang pemimpin harus mengetahui apa dan bagaimana
cara cirri – cirri leadership sehinga dalam kepemimpinan nya menjadi seorang
leadership yang handal.
·
seorang pemimpin setidaknya harus memiliki
kriteria-kriteria tertentu, misalnya kemampuan bisa “perceptive” dan objektif.
Dalam mengarahkan dan memotivasi bawahan agar melakukan pekerjaan dengan
sesuai, seorang pemimpin bisa memilih suatu gaya kepemimpinan tertentu
DAFTAR PUSTAKA
Djafri Novianty. 2014. Psikologi
Manajemen. Yogyakarta: CV Budi Utama
Winardi, Manajemen Personalia,
Abardin, Bandung, 1990
Miftah Thoha, Kepemimpinan Dalam
Manajemen, CV. Rajawali, Jakarta, 1985
James. L. Gibson, John M.
Ivancevich, James H. Donnely, organisasi dan Manajemen, Erlangga, Jakarta,
1994.